Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Posting gak penting!

Dah lama pisan ga posting di blog ini...! dah bertahun-tahun kali. Setelah lulus kul n terpisah dari temen2.. maybe temen-temen ada yang rupa2 kerjaannya, termasuk nasib kali yang beda2. Nasib ato apalah sebenarnya pilihan, sobat. Mau kaya, mau miskin, kita sendiri yang memilih demikian.

But tp tetap kesuksesan bagi kita kadang masih misteri, sobat! Kenapa ya ada orang yang keliatannya biasa2 saja tiba2 sukses. Atau yang mati2an kerja n usaha, tp belum sukses2 ?

Pohon Belimbingku sayang

Ada yang hilang dari pandanganku!
Dua buah pohon belimbing yang ada di depan rumahku, menjadi salah satu daya tarik bagiku untuk pulang kampung ke desa. Kemarin pas saat mudik idul adha-an, ternyata tak lagi kulihat kedua buah pohon tersebut dengan tegar berdiri. Hanya bekas penggalannya berupa seonggok pangkal pohon hasil pangkasan gergaji mesin atau mungkin golok, aku tidak mau tahu.

Ada sesuatu yang hilang saat aku memandangnya, tidak terasa batin menangis. Dua buah pohon yang menjadi saksi pertumbuhanku sejak mulai SD, SMP, SMA, hingga saat-saat aku menempuh kuliah di bandung, sekarang tinggal kenangan.

Belimbing oh belimbing, aku ingat saat kelas tiga SD (kalau tidak salah). Waktu itu aku sedang “mengamuk” entah karena apa, dan pohon belimbing yang masih seumur bayi hasil jerih payah bapakku menanamnya, menjadi bulan-bulanan “rengekanku”. Belimbing yang baru tumbuh setengah meteran itu spontan saja aku cabut…tapi ternyata tidak bisa, mungkin akar-akarnya yang telah menancap kuat ke dalam bumi menjadikan ia kokoh tak tergoyahkan. Aku menjadi malu sendiri saat itu, yang kulihat adalah tawa kecil bapakku tanda mengejekku…hehehe..

Ya udah, itu masa lalu. Masa lalu ya tinggal masa lalu. Sekarang apa mau dikata… satu hal yang paling tragis adalah penyebab mengapa pohon belimbingku sayang itu dipotong.

Kira-kira setahun yang lalu sering kudengar orang-orang berbicara pada orangtuaku bahwa mereka sering melihat ada hantu di pohon belimbing itu. Aku sangsi, sehingga hampir tiap malam jika saat aku pulang kampung ke perewah, sebuah desa kecil tercintaku, sering dengan sengaja aku keluar rumah dan menatap ke arah pohon belimbing itu, hanya sekedar ingin membuktikan kebenaran ucapan orang-orang. Wah ngarang ini orang-orang, pikirku.

Dan kira-kira setahun kemudian, yaitu saat aku posting tulisan ini, semakin santer saja orang yang membicarakan dan melihat keberadaan hantu di pohon belimbing di depan rumahku itu. Termasuk sesepuh-sesepuh di desaku, dan orang yang dapat dipercaya. Sempet merinding juga sih bulu kudukku..hiii..

Dan ternyata itu yang mendasari keputusan orang tuaku untuk memotong kedua buah pohon belimbing itu. Bukannya ikut-ikutan latah dengan omongan yang beredar di masyarakat, Melainkan demi menjaga suasana supaya tetap kondusif. Biarpun kata orang dengan memotong pohon itu berarti melegitimasi keberadaan hantu..tapi akan lebih parah lagi kalau dibiarkan....tul ndak?

Oya, gambar di atas adalah gambar latar belakang pohon belimbing. Aku tidak punya koleksi gambar pohon yang terbaik, hanya ini yang ada. Kalau saja aku tahu pohon ini akan ditebang, mungkin seribu jepretan foto pohon belimbing akan kubuat...

Selamat jalan pohonku...kini saat aku balik ke bandung, tidak akan lagi kubawa buah belimbingmu...padahal adik ipar, bibi, n saudara-saudaraku di bandung suka mewanti-wanti untuk membawa buahmu, sebagai oleh-oleh dari perewah.

posting by: eeng

Ingin Masuk Surga?

Suatu hari jumat aku melaksanakan kewajiban selaku umat muslim, tak salah lagi yakni shalat jumat.

Jujur saja, pagi hingga menjelang siang aku sedikit bertengkar dengan istri sehingga ada perasaan dongkol di hati. Aku sih yang bersalah. Aku terlalu be’te dengan hari-hariku. Itu semua karena perasaanku yang belum pernah merasakan nikmatnya hasil dari kerja kerasku dalam dunia bisnis internet. Sehingga perasaan dongkol itu juga selalu terngiang-ngiang dalam hati dan kubawa-bawa ke dalam mesjid.

Tepat! Aku tidak mensyukuri diri. Mengapa aku mesti bete. Padahal jelas-jelas di setiap hari yang kulalui selalu ada peningkatan diri, yaitu dengan bertambahnya ilmu, bertambahnya kondisi (apapun itu yang kupunya). Sadar ataupun tidak, di setiap saat pasti ada kemajuan dalam diriku, sekecil apapun itu. Biarpun manusiawi... mungkin semua perasaan itu seakan hilang setelah aku memikirkan apa yang belum kuraih.

Ah sudahlah, tidak perlu menyimpang terlalu jauh dari yang ingin aku katakan sebelumnya dalam tulisan ini. Aku ingin mengatakan bahwa ada empat hal yang kupetik dari khutbah jumat yang kuikuti sat itu. Semoga Allah SWT berkenan kepada aku untuk memberikan pahala lewat tulisan yang kusampaikan kepada siapapun yang mengunjungi blog ini. Mengapa? Karena aku pun merasa belum sepenuhnya melaksanakan semua perintah-Mu...Ya Allah...

OK. Ada empat hal yang sangat mudah kita lakukan jika ingin masuk surga:

  • Sebarkan salam
  • Panjangkan silaturahmi
  • Memberi makan orang
  • Shalat tahajud

Tidak perlu aku jelaskan lagi dari tiap-tiap poin di atas karena aku yakin anda lebih faham dengan semua itu. Malahan aku yakin tidak hanya faham sebatas definisi semata, melainkan sudah menjadi makanan sobat setiap waktu.

Kalau begitu, aku yang menyampaikannya merasa tidak pantas dong! Tidak apa-apa lah, yang penting aku telah berusaha mengingat dan melaksanakan sebuah hadis yang berbunyi: “sampaikanlah walaupun hanya satu ayat”.

Kreatifitasku datang pada malam hari

Semua orang punya waktu masing-masing untuk menumpahkan kreatifitasnya. Pun begitu dengan aku. Biasanya waktu malam menjelang, itulah waktu yang paling aku suka. Di waktu malam, aku merasa bebas untuk menumpahkan segala yang ada di otakku via komputer, atau sekedar untuk membuat coretan-coretan di atas kertas, membaca, atau bahkan berpikir tentang apa saja yang menjadi proyek pribadiku. Apakah itu sebuah system dalam mencari uang via internet atau secara offline, ataukah hanya sekedar mencari celah-celah inspirasi bagaimana caranya mendidik anak supaya menjadi anak yang baik, solehah, pintar, tidak pendiam dan introvert sepertiku. Tentunya aku merasakan full freedom dengan waktu ini. Merasakan bebas dari berbagai gangguan luar dan dalam.

Entah mengapa, tiap malam juga aku ingin merasa sendirian, tidak mau ada orang lain yang mengganggu, pun istriku sendiri, yang nyata-nyata dulu waktu bikin si najla (anakku) pada malam hari...hahaha. Entahlah, aku merasa nyaman saja saat bersendirian.

Pada siang hari jelas aku merasa tidak tenang dari berbagai interupsi, seperti panggilan telpon lah, tangisan si anak lah, ketawa ketiwinya anakku dan teman-temannya anakku yang bermain di teras rumah. Yang jelas itu semua mengganggu konsentrasi untuk berkontemplasi, merenung, dan berpikir. Di waktu siang tentunya ada perasaan tidak enak kalau aku harus terlihat bengong atau duduk di depan komputer terus-terusan oleh mertuaku. Bisa dianggap apa aku ini. Pemalas lah, menghabiskan listrik lah, atau apalah....aku merasa gak enak aza. Maaasa...saat ibu mertua, adik ipar, dan istriku setiap pagi disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing (but-bet kaditu kadieu), sementara aku harus ayik-asyikan di depan komputer, kan enggak enak tho (setuju tidak?). Apalagi anakku suka menangis pingin sama mamahnya terus. Otomatis aku harus rela meninggalkan hobi dan pekerjaanku untuk mengasuh si kecil najla. Pekerjaan? Ya, ini menurutku... karena aku mencari uang pun harus dengan pemikiran. Bagiku ini pekerjaan karena dalam diam aku tidak pernah diam. Aku terus menerus membuat, membangun, dan menciptakan system. Aku juga punya target yang belum pernah tercapai hingga saat ini. Masing-masing wae atuh, bener teu? Naha teu cape kitu aing? Saruaaa capek aing oge...(mohon dibaca dengan nada yang agak tinggi dan penuh emosi..wekekekekkk).

Terus... bukannya apa-apa juga, siang hari aku tidak mesti seharian di depan komputer karena aku takut dijadikan kambing hitam dan akhirnya di sebut sebagai tersangka utama orang yang menghabiskan listrik di rumah(alias pembayaran listrik jadi membengkak gitu lho...wekekeke...). Padahal watt-an listrik komputer tidak seberapa dibandingkan dengan televisi, kan? Eh..Di RMI-ku (rumah mertua indah) ada lima TV lho. Hampir tiap kamar ada TVnya, termasuk di rumah ku (eh kamarku), itu kan yang harus disalahkan. Hehe...padahal hampir tiap malam juga ketang aku sering standby di depan komputer, bahkan sampai pagi. Aku habisin tuh listrik biar jebol...jebol sakalian....

Malam hari, bukannya begadang seperti kebenyakan, malahan aku tidak pernah tidur setiap malam. Aku baru tidur sekitar udah lohoran, mungkin bisa sampai maghrib (kalau yang ini harus dong...aku tidak peduli dengan perasaan malu pada mertuaku).

Sudahlah sobat, aku tidak mau buka kartu dan aibku sendiri (padahal sudah barusan..hehe). Naha jadi melenceng jauh tina judul euy pembahasanna...Geusw lah, yang penting aku merasa terpuaskan di saat-saat waktu tenang itu (yaitu malam hari). Seperti yang telah aku sebutkan, aku merasa full fredom, bebas berekspresi, bebas merdeka dari kepenatan, pokoknya bebas segala-galanya lah. Aku selalu menunggu malam. Bagaimana dengan sobat? Kapankah waktu istimewa bagi sobat-sobat GF saat merasa full freedom seperti aku?

Curhat tempo dulu

Mengenang masa-masa kuliah dulu, tidak jauh dari kenangan saat pertama kali aku mencintai seorang wanita. Huh... bagiku itu sebuah banyolan yang sangat memalukan. Ternyata waktu memang bisa memupuskan ingatanku (bukan ingatan..tapi perasaan) terhadap dia. Dan ternyata waktu lah juga yang memberitahukan kepada saya untuk tidak jadi menikah dengan dia. Yup..”waktu” bagiku adalah manifestasi eksistensi Allah....

Siapakah diantara sobat yang bisa menciptakan waktu, coba? Tentu tidak, bukan?

Sudahlah...semua telah begitu jauh. Jauh....jauh...dan jauh. Dan yang pasti jiwa ini pun telah merasa jauh sejauh raga ini berpisah dengannya. Malah sampai saat ini pun tak pernah kutahu dan tak pernah ada kabar berita dimana dia berada. Masih di kota kelahirannya kah, atau di sebrang, it is no problem bagiku.

Tapi ketang, terkadang aku tak mengerti mengapa sebuah peristiwa masa lalu tiba-tiba saja melintas di depanku. Menyeruak ke dalam rongga dada. Tentunya itu semua kualami saat sendirian berasyik mansyuk dengan pikiran n perasaan.

Aku seorang lelaki, tapi semua orang pasti setuju bahwa manusia itu memiliki sisi jiwa yang lain. Sebuah sisi jiwa yang rapuh, yang tak bisa menahan sakitnya saat persepsi kita mengatakan bahwa seseorang tidak lagi mencintai kita.

Ah semua itu begitu membuat jiwaku semakin kerdil saja....Lupakanlah...hiduplah dengan saat ini...

Hai...dimanapun kamu berada, ini puisi buatmu yang tak sempat aku ekspresikan waktu itu...kamu tahu, waktu itu aku memang dalam posisi yang rapuh..

....Ta

Sebelum kita menjawab..

Adakah sebuah pertanyaan

Sebelum kita terlahir

Adakah sebuah nasib

Sebelum kita tua

Adakah kita meminta

Sebelum kita beranjak

Adakah kita termangu

Sebelum semuanya usai

Adakah yang akan engkau katakan

Sebelum kukatakan cinta

Adakah engkau menolaknya

Sebelum aku berkuasa

Adakah engkau menjatuhkanku

Sebelum aku bertahta di hatimu

Kau telah menjadikanku batu

Kau tahu aku jujur padamu

Sedang kau telah menjadi penipu


Tah kitu nu matak kade hati-hati jeung awewe teh.......wkekekkkkk!!!!

Tulisan ini saya dedikasikan bagi anak GF yang mengalami urusan masalah kewanitaan alias awewe yang sama atau hampir sama jeung sim kuring....Yuuuuu...Wekekekekekkkkk...